Sebelumtidur, ada beberapa amalan sunnah untuk dilakukan seperti membaca tasbih az-Zahra, membaca Surah al-Ikhlas 3 kali, ayat terakhir Surah al-Kahfi agar Anda dapat terjaga untuk shalat malam—dengan menyiapkan alarm tentu lebih baik—tidur dalam keadaan wudhu, beristigfar, tidur dalam posisi tubuh bertumpu ke bagian kanan seraya menghadap
Tentusaja Dia jauh lebih mengerti. Dia tidak akan merencanakan yang jahat untuk kita. Kalau kita meminta, Dia pasti akan memberi. Namun, ingat bahwa apa yang baik menurut kita belum tentu baik di mata Allah. Dia akan memberikan apa yang lebih kita butuhkan daripada yang kita inginkan. Mungkin kita merasa bahwa hal tertentu adalah yang terbaik
Terkadangapa yang kita rencanakan belum tentu benar-benar baik untuk kita, tetapi apa yang Allah rencanakan sekalipun itu buruk pada awalnya tetap saja akan baik untuk kita. Allah tahu segala hal yang tidak kita ketahui, bahkan Allah sangat mengerti setiap hal yang kita butuhkan, bukan hanya sekedar yang kita inginkan. Oleh sebab itu, berbaik
Makacintailah orang sewajarnya . karena. orang yang kita cintai belum pasti jodoh kita nanti, kadang yang engkau nilai. baik untuk mu belum tentu baik untuk ALLAH. Seperti dalam firman ALLAH. SUBHANAHU WA TA'ALA. "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh. jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat
Lampung3 Mei 2019 Bimbingan dan konseling merupakan salah satu komponen dalam keseluruhan sistem pendidikan khususnya di sekolah Selama pandemi Covid-19 ini pemerintah Indonesia khususnya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan telah mengupayakan berbagai cara Baca Selengkapnya Artikel , Makalah , Pembelajaran admin 26 Januari 2021 26 Januari 2021 Terhadap PDB secara nasional tanpa migas
alamat pesantren ustadz adi hidayat di bekasi. BERANDA RELIGI dika mustika 20 Maret 2018 Dibaca 35372x Boleh jadi yang kamu benci adalah baik untukmu dan yang kamu inginkan belum tentu baik Untukmu. Percayalah perspektif-Nya!“Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” Al Baqaroh 216 Tadi pagi aku mendengarkan sebuah kisah yang menggambarkan ayat tersebut. Pernahkah kamu merasa kalau hidup itu rasanya, kok...menguras emosi, energi, pikiran, dan menguras lainnya. Rasanya hidup seakan tidak berpihak pada kita. Segala ketidakberuntungan seakan datang silih berganti. Sedangkan, adakalanya jika kita melihat kondisi orang lain, yang terlintas di pikir adalah...”Betapa beruntungnya dia, tidak melakukan apa-apa, tapi segala keberuntungan datang padanya.” Nah, pemikiran itu juga sempat terpikir olehku. Namun, cerita yang kudengar pagi tadi membuatku berpikir ulang. Dikisahkan di sebuah desa ada sebuah keluarga yang memiliki berbagai hewan. Ada keledai, anjing, juga ayam. Suatu pagi, ketika sang istri terbangun ia kaget bukan kepalang, melihat kandang ayam mereka kosong melompong. Selidik punya selidik, ternyata ada yang mencuri ayam mereka. Sang suami kala itu hanya berkata, “Ya, ini yang terbaik.” Tak lama waktu berselang...sang istri di suatu siang menemukan bahwa anjing keluarga mereka yang biasanya menjaga rumah, mati terkena perangkap di hutan. Saat itu sang suami berkata lagi, “Ya, ini yang terbaik.” Sang istri masih tidak paham dengan perkataan suaminya. Tak lama waktu berselang lagi, ternyata keledai milik mereka terkena suatu penyakit, hingga akhirnya keledai-keledai keluarga ini mati. Sang istri merasa bahwa hidup mereka sangat tidak beruntung. Satu persatu Allah mengambil harta yang mereka punya, ayam, anjing, dan keledai. Sang istri menangis kepada suaminya. Sang suami hanya berkata, “Ini adalah yang terbaik.” Sang istri terus menangis dan masih tidak memahami perkataan suaminya. Di suatu pagi, pasangan suami istri ini terbangun dan seperti biasanya langsung keluar rumah. Betapa kaget mereka, mereka menjumpai desa mereka sunyi senyap. Tak ada seorang pun di luar rumah. Dan ternyata desa mereka semalam kedatangan sekelompok perampok. Perampok tersebut menghabisi penduduk yang di rumahnya ada suara. Seperti suami istri tadi, di rumah penduduk desa tersebut memang sebagian besar memiliki hewan-hewan di rumahnya. Dan hewan-hewan tersebut bersuara ketika ada perampok. Perampok takut aksi mereka ketahuan. Maka hal mengerikkan itu pun terjadi. Kini, sang istri pun memahami apa yang selama ini dikatakan oleh suaminya. “Ya, ini adalah yang terbaik.” Sering, kita merasa bahwa kita lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Padahal, ilmu Allah lah yang mampu mengetahui yang terbaik untuk kita. Seringkali kita tidak dapat melihat apa yang terbaik untuk kita, karena kita begitu sibuk dengan prediksi kita tentang definisi terbaik ini. Semoga kisah ini bisa lebih membuka hati juga pikiran kita. Lebih meyakinkan kita, bahwa Allah lah yang tahu kondisi terbaik untuk kita. Percayalah! Artikel TerkaitArtikel Lainnya
Bismillaahirrahmaanirrahiim, Assalaamu’alaykum Wr. Wb. “Sesuatu yang menurutmu baik untukmu, belum tentu baik menurut Allah untukmu. Dan sesuatu yang menurutmu buruk bagimu, belum tentu buruk menurut Allah bagimu”. Bagi seorang manusia, keberhasilan adalah suatu kondisi yang selalu ingin dicapai. Tidak ada satupun manusia yang ingin terpuruk dalam kegagalan terus-menerus. Bagi mereka yang mau dan mampu untuk meraihnya, keberhasilan itu akan dapat diraih atas izin Allah SWT. Seorang mahasiswa pasti mengharapkan sebuah prestasi akademik yang baik. Seorang pengusaha pasti selalu mengharapkan mendapat keuntungan yang sebesar-besarnya. Seorang pilot pasti mengharapkan agar dapat take off dan landing dengan selamat. Seorang penulis buku pasti mengharapkan agar bukunya dapat diminati oleh banyak orang. Begitupun dengan kita, kita pasti mengharapkan keberhasilan dalam setiap aktivitas yang kita lakukan. Sebuah keberhasilan merupakan hasil dari suatu usaha yang kita lakukan. Orang yang meraih keberhasilan dalam suatu aktivitas akan disebut sebagai orang yang hebat karena telah berhasil meraih apa yang ia inginkan, sebaliknya, orang yang gagal meraih keberhasilan itu, maka ia akan dikatakan sebagai orang yang gagal. Hal inilah yang terbentuk dalam pola pikir sebagian orang. Satu hal yang perlu kita ingat, tidak selamanya kegagalan itu menandakan ketidakmampuan kita untuk mencapai suatu tujuan. Sebab kegagalan itu adalah proses atau sebuah jalan panjang menuju titik kejayaan. Kita mungkin sering mendengar kata-kata mutiara Kegagalan adalah awal dari keberhasilan. Ternyata hal ini memang terbukti. Seorang Thomas Alfa Edisson mengalami ratusan kegagalan sebelum akhirnya mampu menemukan lampu. Seorang Bill Gates harus rela dikeluarkan dari kampusnya sebelum akhirnya ia membangun kerajaan IT dunia, Microsoft. Pada hakikatnya, manusia pasti pernah mengalami kegagalan dalam hidupnya, hanya saja mereka yang mampu bangkit dari kegagalan itu, itulah keberhasilan yang sesungguhnya. Islam mengajarkan ummatnya bagaimana meraih sebuah keberhasilan dalam hidup, baik di dunia maupun di akhirat. Perlu kita pahami bahwa segala sesuatu yang ada di dunia ini merupakan kuasa dari Allah semata. Artinya, segala sesuatu yang ada di jagat raya ini adalah milik Dia yang menciptakan, yaitu Allah SWT. Sebagai seorang pemilik, Allah berhak berbuat apa saja terhadap ciptaanNya. Keberhasilan hanya dapat diraih melalui dua cara, yaitu ikhtiar dan tawakkal. Segala upaya dan kerja keras kita dalam mewujudkan tujuan dan mimpi yang ingin kita raih merupakan ikhtiar. Namun bagaimanapun juga, manusia tetap saja seorang makhluk yang tidak memiliki kekuatan apa-apa. Untuk itulah, selain melakukan ikhtiar, kita harus tawakkal kepada Allah dengan memperbanyak ibadah dan do’a agar setiap ikhtiar yang kita lakukan mendapat berkah dan dimudahkan oleh Allah. Banyak orang yang telah bekerja keras siang dan malam, bahkan sampai menghabiskan sebagian besar waktu, tenaga, bahkan hartanya hanya untuk meraih impiannya, pada akhirnya harus mengalami kegagalan yang pahit. Inilah akibatnya jika kita melupakan Allah dalam setiap ikhtiar/ usaha kita. Kita terkadang merasa pede dengan kemampuan kita sendiri, bahkan sampai menganggap bahwa keberhasilan yang selama ini diraih adalah hasil jerih payahnya sendiri. Dia lupa bahwa yang memberikan segala kenikmatan itu adalah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kaya. Ikhtiar dan tawakkal hanyalah sebuah washilah sarana kita untuk mencapai tujuan kita. Segala sesuatunya hanya berhak ditentukan oleh Allah saja. Artinya, tujuan atau mimpi yang ingin kita capai belum tentu akan kita raih, sekalipun telah melakukan ikhtiar dan tawakkal yang banyak. Kenapa demikian? Apakah Allah murka pada kita? Ternyata Allah sangat sayang kepada kita. Allah itu Maha Mengetahui segalanya. Termasuk segala sesuatu yang kita butuhkan, Allah lebih tahu daripada kita sendiri. Karena, segala sesuatu yang kita inginkan, segala sesuatu yang menurut kita baik, ternyata belum tentu baik menurut Allah. Misalnya, si Fulan ingin hidup kaya dan tentram. Dia setiap hari berikhtiar dan bertawakkal agar Allah memberikannya kekayaan kepadanya. Namun pada akhirnya dia tetap saja hidup miskin. Bukan berarti Allah murka kepadanya, lantas tidak memberikan kekayaan pada si Fulan. Tapi Allah tahu, jika ia menjadi orang kaya yang bergelimangan harta, dia akan menjadi kufur dan jauh dari Allah. Oleh karena itulah, Allah tidak mengubah nasibnya agar ia lebih dekat lagi kepada Allah. Ketika usaha dan do’a kita tidak dikabulkan oleh Allah, itu berarti Allah mempunya rencana lain yang jauh lebih indah daripada rencana yang kita buat.
Sebagai hamba allah,kita sering meminta Sesuatu kepada allah swt,yang mana sesuatu tersebut kadang belum tentu baik buat kehidupan kita,sehingga dia tidak mengabulkannya,sikap kita sebagai orang yang beriman sebaiknya? Jawabanmenerima nya dan sabar untuk menunggu dikabulkan nya permintaan itu
Terkadang seseorang tertimpa takdir yang menyakitkan yang tidak disukai oleh dirinya, kemudian dia tidak bersabar, merasa sedih dan mengira bahwa takdir tersebut adalah sebuah pukulan yang akan memusnahkan setiap harapan hidup dan cita-citanya. Akan tetapi, sering kali kita melihat dibalik keterputus-asaannya ternyata Allah memberikan kebaikan kepadanya dari arah yang tidak pernah ia berapa banyak pula kita melihat seseorang yang berusaha dalam sesuatu yang kelihatannya baik, berjuang mati-matian untuk mendapatkannya, tetapi yang terjadi adalah kebalikan dari apa yang dia Seandainya kita mau merenung dan sedikit berfikir, sungguh di setiap apa yang telah Allah takdirkan untuk hamba-hamba-Nya, di dalamnya terdapat hikmah dan maslahat tertentu, baik ketika itu kita telah mengetahui hikmah tersebut ataupun tidak. Demikian juga ketika Allah Ta’ala menimpakan musibah kepada kita, maka kita wajib berprasangka baik kepada-Nya. Sudah sepantasnya kita meyakini bahwa yang kita alami tersebut akan membawa kebaikan bagi kita, baik untuk dunia kita maupun akhirat kita. Minimal dengan musibah tersebut, sebagian dosa kita diampuni oleh Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Oleh karena itu, maka lihatlah takdir ini dengan kacamata nikmat dan rahmat, dan bahwasanya Allah Ta’ala bisa jadi memberikan kita nikmat ini karena memang Dia sayang kepada Allah Ta’ala pun telah berfirman,و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”QS. Al Baqarah 216Saudariku… Sungguh jika kita mau membuka kisah-kisah dalam Al Qur’an dan lembaran-lembaran sejarah, atau kita memperhatikan realitas, kita akan mendapatkan darinya banyak pelajaran dan bukti bahwa selalu ada hikmah di balik setiap apa yang Allah takdirkan untuk lihatlah kisah Ibu Nabi Musa alaihissalam ketika ia harus melemparkan anaknya ke sungai… bukankah kita mendapatkan bahwa tidak ada yang lebih dibenci oleh Ibu Musa daripada jatuhnya anaknya di tangan keluarga Fir’aun? namun meskipun demikian tampaklah akibatnya yang terpuji dan pengaruhnya yang baik di hari-hari berikutnya, dan inilah yang diungkapkan oleh ayatواللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَAllah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahuiLihat pula kisah Nabi Yusuf alaihissalam ketika beliau harus berpisah dengan ayah beliau Nabi Ya’qub alaihissalam, ketika beliau harus dimasukkan ke dalam sumur dan diambil oleh kafilah dagang… Bukankah kita akan melihat hikmah yang begitu besar dibalik semua itu?Lihat pula kisah Ummu Salamah, ketika suami beliau-Abu Salamah- meninggal dunia, Ummu Salamah radhiallaahu anhaa berkata“Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Tidaklah seorang muslim tertimpa musibah lalu ia mengucapkan apa yang diperintah oleh Allah, إنّا للهِ وَ إنَّا إِليْهِ رَاجِعُوْنَ, اللهُمَّ أَجُرْنِيْ فِيْ مُصِيْبَتِيْ وَ أخلفْ لي خَيْرًا مِنْهَا Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya kepada-Nya lah kami akan kembali. Ya Allah, berilah pahala kepadaku dalam musibahku dan berilah gantinya untukku dengan yang lebih baik darinya.” Ia berkata, “Maka ketika Abu Salamah meninggal, aku berkata, Seorang Muslim manakah yang lebih baik dari Abu Salamah? Rumah keluarga pertama yang berhijrah kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam?’ Kemudian aku pun mengucapkannya, maka Allah memberikan gantinya untukku dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.” HR. MuslimRenungkanlah bagaimana perasaan yang menghinggapi diri Ummu Salamah –yakni perasaan yang muncul pada sebagian wanita yang diuji dengan kehilangan orang yang paling dekat hubungannya dengan mereka dalam kehidupan ini dan keadaan mereka Siapakah yang lebih baik dari Abu Fulan?!- maka ketika Ummu Salamah melakukan apa yang diperintahkan oleh syariat berupa sabar, istirja’, dan ucapan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka Allah pun menggantinya dengan yang lebih baik yang belum pernah ia impikan seorang wanita yang beriman, tidak seharusnya ia membatasi kebahagiaannya pada satu pintu saja di antara pintu-pintu kehidupannya. Karena kesedihan yang menimpa seseorang adalah sesuatu yang tidak ada seorang pun yang bisa selamat darinya, tidak pula para Nabi dan Rasul! Yang tidak layak adalah membatasi kehidupan dan kebahagiaan pada satu keadaan ataupun mengaitkannya dengan orang-orang tertentu seperti pada laki-laki atau wanita pula dalam kehidupan nyata, kita pun sering melihat ataupun mendengar kisah-kisah yang penuh dengan hikmah dan karena itulah, hendaknya kita selalu bertawakkal kepada Allah, mengerahkan segenap kemampuan untuk menempuh sebab-sebab yang disyariatkan, dan jika terjadi sesuatu yang tidak kita sukai, jendaklah kita selalu mengingat firman Allah Ta’ala,و عسى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وهُوَ خَيْرٌ لكَمْ وَعَسى أَنْ تُحِبُّوْا شَيْئا وهو شرٌّ لكم واللهُ يعلمُ وأَنْتُمْ لا تَعْلمُوْنَ“Bisa jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan bisa jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” QS. Al Baqarah 216.Hendaklah ia mengingat bahwasanya di antara kelembutan Allah terhadap hamba-hambaNya adalah “Bahwasanya Dia menakdirkan bagi mereka berbagai macam musibah, ujian, dan cobaan dengan perintah dan larangan yang berat adalah karena kasih sayang dan kelembutanNya kepada mereka, dan sebagai tangga untuk menuju kesempurnaan dan kesenangan mereka” Tafsir Asma’ al Husna, karya As-Sa’di.Semoga yang sedikit ini bisa menjadi nasihat untuk diri saya pribadi dan bagi orang-orang yang membacanya, karena barangkali kita sering lupa bahwa apapun yang telah Allah Ta’ala takdirkan untuk kita adalah yang terbaik untuk kita, karena Dia-lah Dzat Yang Maha Mengetahui kebaikan-kebaikan bagi para hambaNya.*** Artikel Penulis Wakhidatul Latifah Murajaah Ustadz Ammi Nur BaitsReferensiQawaa’id Qur’aaniyyah, Dr. Umar bin Abdullah al-Muqbil, Markaz at-Tadabbur Li al-Isytisyarat at-Tarbawiyyah wa at-Ta’limiyyah. Dan terjemah, “50 Prinsip Pokok Ajaran Al Qur’an” terbitan Pustaka Daarul Faidah Kitab Tauhid, Abu Isa Abdullah bin Salam, Pustaka Muslim.
Dalam meraih keridoan Allah, kita sebagai makhluk ciptaan-Nya ingin selalu menempuh cara yang diridhai oleh Allah SWT. Salah satunya adalah usaha dalam mencari pendamping hidup di dunia ini. Tentu saja usaha tersebut menghindari perbuatan zina yang sangat dibenci oleh Allah. Yang kita kenal dengan islam, Taaruf merupakan usaha yang dianjurkan dalam mencari pendamping hidup tanpa menggunakan cara zina seperti pacaran yang saat ini tengah menjadi trend di kalangan remaja. Namun sebagaimana usaha lainnya terkadang usaha Taaruf tidak selalu berujung pada pernikahan. Faktanya terjadi di lapangan, hanya sekitar 20% pasangan yang melanjutkan prosesnya hingga besar prosesnya tidak berlanjut, entah itu karena pria yang ditolak, wanita yang ditolak, atau karena penolakan orang tua. Dan bagaimana cara menolak taaruf yang dirasa tidak menemukan kecocokan secara sopan dan tiga hal yang bisa Anda jadikan sebagai masukan sebelum mengajukan penolakan ta’aruf. Berikut Anda dapat menolak jika Anda merasa tidak pantasPasangan Anda akan menjadi orang yang Tuhan inginkan untuk bersama Anda seumur hidup, jadi Anda perlu menemukan orang yang tepat dengan siapa Anda dapat hidup dengan nyaman. Faktor agama dan akhlak yang baik pasti menjadi kriteria utama selain pertimbangan agama, entah itu pertimbangan fisik, usia, pendidikan, pekerjaan, tempat tinggal, atau pertimbangan duniawi lainnya, tidak salah jika Anda menetapkan standar tambahan. Mengesampingkan pertimbangan agama dan mengutamakan faktor sekuler tentu bukanlah sikap yang baik. Di sisi lain, juga merupakan sikap yang tidak tepat untuk hanya fokus pada sisi agama dan bukan pada sisi ekstrimnya adalah Anda, seorang wanita, menerima ajakan ta’aruf dari dua orang, baik yang agamis maupun yang berkelakuan baik, yang satu bergelar sarjana pendidikan dan satunya lagi tidak tamat TK, berapa angka presentase yang ada dipikiran? Mana yang akan kamu pilih? Atau kamu seorang laki-laki yang menerima tawaran Taruf dari seorang wanita beragama yang baik, tetapi dia adalah nenek berusia 70 tahun, apakah kamu ingin menjadi suaminya? Mungkin bagi Anda tidak masalah, tapi apakah bisa diterima oleh keluarga Anda?Jadi, selain kriteria agama menjadi prioritas utama, faktor sekuler tidak bisa dikesampingkan saat memilih calon dan beberapa sahabatnya pun pernah mengalami penolakan atau menolak jika dirasa tidak cocok. Pada suatu waktu, Rasul pernah menyarankan sahabatnya yang hendak menikah untuk melakukan Nadzhor melihat calon pasangan sebelum melamar dengan tujuan menemukan hal-hal yang menarik hati hingga perasaan untuk menikahi calonnya semakin menguat.Oleh karena itulah, ketika dirasa tidak memiliki kecocokan, Anda dapat menolak untuk melanjutkan proses Alasan tidak perlu dikemukakanUntuk menghindari kerugian bagi pihak yang ditolak, alasan penolakan tidak boleh disebutkan. Dari pengalaman mendampingi ta’aruf, kebanyakan penolakan disebabkan oleh sisi duniawi seseorang, sehingga akan menyakitkan jika menolak menjelaskan alasan penolakan meliputi fitur wajah yang tidak pantas, perawakan pendek, kelebihan berat badan, usia jauh, pendidikan yang tidak setara, pekerjaan yang tidak mencukupi, status perkawinan sebelumnya janda/janda, dll. Seperti yang dapat Anda bayangkan, jika alasan ini dikomunikasikan, tentu saja, kerugiannya atau mudharatnya lebih besar daripada juga bisa menjadi rapuhbahkan hancur karena pihak yang ditolak tidak siap menerima alasan penolakan yang diajukan. Jadi, ketika Anda menolak ta’aruf, sampaikan saja poinnya bahwa Anda tidak ingin melanjutkan proses ta’aruf, apapun alasannya, tidak perlu Menyusun dan Memilih Kalimat Penolakan dengan baikPenolakan ta’aruf harus diungkapkan dengan kalimat yang singkat, padat, jelas, dengan maksud tidak ingin melanjutkan proses ta’aruf. Tidak perlu memuji orang yang ditolak, misalnya “Mas adalah orang yang saleh, Tuhan tidak mau, mas akan mendapatkan pasangan masa depan yang saleh.”, atau “Kamu orang yang saleh, Insya Allah, kamu akan mendapatkan pasangan yang lebih baik. Baik dari saya”.Hindari kalimat seperti ini, karena justru akan membuat orang yang ditolak emosional dan sulit untuk berpaling dari Anda. Agar proses taaruf lebih terjaga, pengajuan ta’aruf dan penolakan ta’aruf harus disampaikan melalui pihak ketiga atau perantara, tidak secara ketiga ini bisa dipilih dari kerabat, teman dekat atau mitra terpercaya lainnya. Alhamdulilah rasa malu melamar Taaruf atau kekecewaan menerima penolakan Taaruf diminimalkan karena difasilitasi melalui perantara pihak satu contoh rangkaian kata dalam menolak adalah, Perantara taaruf bisa menyampaikan penolakan taaruf dengan kalimat seperti ini “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, setelah istikharah dan mempertimbangkan selama satu pekan ini, pihak laki-laki/pihak perempuan menyampaikan permintaan maafnya karena tidak bisa melanjutkan proses taaruf. Insya Allah ini yang terbaik menurut Allah SWT.”Yang terbaik menurut kita, belum tentu baik menurut Allah Aza wa Ja’ala. Jadi tak perlu memaksa harus berjodoh dengan orang, karena Allah-lah yang lebih tau jodoh yang terbaik buat Anda. Insya Allah apabila memang berjodoh, proses taaruf akan dijalani dengan lancar sepanjang proses sampai ke jenjang pernikahan. Wallahu a’alam.
baik buat kita belum tentu baik buat allah